Tentang Sistem

Panduan lengkap cara kerja, sumber data, dan batasan sistem rekomendasi ini. Baca halaman ini sebelum menginterpretasikan hasil rekomendasi.

Apa Itu Sistem Ini?

Sistem ini adalah Decision Support System (DSS) atau alat bantu pengambilan keputusan berbasis data yang dirancang untuk membantu pelaku UMKM di Kota Salatiga menentukan kelurahan mana yang paling prospektif sebagai target distribusi produk.

Sistem ini tidak menggantikan penilaian dan pengalaman pengguna. Rekomendasi yang dihasilkan bersifat kuantitatif dan harus dikombinasikan dengan pengamatan lapangan secara langsung.

Cara Kerja

Sistem menjalankan tiga metode secara berurutan untuk menghasilkan rekomendasi.

1
Pengelompokan WilayahOtomatis

K-Means Clustering. Dijalankan saat aplikasi dimuat

23 kelurahan di Kota Salatiga dikelompokkan berdasarkan kemiripan profil pasarnya menggunakan algoritma K-Means. Pengelompokan ini memastikan bahwa TOPSIS hanya membandingkan kelurahan yang karakteristiknya serupa sehingga hasil ranking memiliki cakupan yang sama. Jumlah cluster dipilih berdasarkan Silhouette Score tertinggi.

2
Pembobotan KriteriaPre-computed

Analytic Hierarchy Process (AHP). Dihitung dari hasil wawancara pakar

Setiap kriteria evaluasi (kepadatan penduduk, kompetisi, total UMKM, pusat perdagangan) diberi bobot menggunakan AHP. Bobot ini ditetapkan berdasarkan hasil wawancara dengan pakar dan bersifat tetap. Konsistensi penilaian pakar diuji dengan Consistency Ratio (CR). Nilai CR < 0.1 dianggap konsisten.

3
Pemeringkatan RekomendasiLangsung

Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS). Dijalankan saat pengguna menekan tombol rekomendasi

Setelah cluster terpilih, TOPSIS meranking seluruh kelurahan di dalamnya. Cluster dipilih menggunakan pendekatan blue ocean. Cluster dengan rasio potensi pasar tertinggi terhadap tingkat kompetisi sektor target. TOPSIS kemudian menilai tiap kelurahan berdasarkan jaraknya ke solusi ideal positif (terbaik) dan negatif (terburuk), dengan bobot dari AHP. Kelurahan dengan skor tertinggi adalah rekomendasi utama.

Kriteria evaluasi TOPSIS

Empat kriteria berikut digunakan untuk menilai setiap kelurahan.

C1
Kepadatan Penduduk↑ BENEFIT

Jumlah penduduk per kelurahan. Nilai lebih tinggi berarti potensi pasar lebih besar.

~46%

Bobot

C2
Tingkat Kompetisi↓ COST

Jumlah UMKM pada sektor yang sama di kelurahan tersebut. Nilai lebih rendah berarti persaingan lebih sedikit.

~28%

Bobot

C3
Total UMKM↑ BENEFIT

Total seluruh UMKM di kelurahan. Nilai tinggi berarti ekosistem UMKM sehat karena terdapat banyak UMKM.

~16%

Bobot

C4
Pusat Perdagangan↑ BENEFIT

Jumlah pasar tradisional dan pusat perdagangan. Nilai lebih tinggi berarti aksesibilitas distribusi lebih baik.

~10%

Bobot

* Bobot bersifat aproksimasi. Bobot final dihitung dari matriks perbandingan berpasangan AHP. Tipe benefit → nilai lebih tinggi lebih baik. Tipe cost → nilai lebih rendah lebih baik.

Sumber Data

Dataset UMKM Kota Salatiga
Dinas Koperasi dan UMKM Kota Salatiga per September 2025.
kuliner, fashion, agribisnis, perdagangan

Jumlah UMKM per sektor usaha di kelurahan tersebut.

totalUsaha

Total UMKM aktif.

berNib

Jumlah UMKM yang sudah memiliki Nomor Induk Berusaha, indikator formalitas dan kematangan ekosistem usaha.

populasi

Jumlah penduduk kelurahan. Bersumber dari data BPS Kota Salatiga.

pasar

Jumlah pasar tradisional dan pusat perdagangan yang beroperasi di kelurahan.

Batasan sistem

Pahami keterbatasan berikut sebelum mengambil keputusan berdasarkan rekomendasi ini.

Data bersifat statis per September 2025

Dataset yang digunakan tidak diperbarui secara real-time. Kondisi pasar, jumlah UMKM, dan persaingan di lapangan dapat berubah sewaktu-waktu. Selalu validasi temuan sistem dengan observasi langsung di lapangan.

Cakupan terbatas 23 kelurahan di Salatiga

Potensi distribusi ke wilayah sekitar, seperti Kabupaten Semarang atau Boyolali tidak diperhitungkan.

Bobot AHP bergantung pada penilaian pakar

Bobot kriteria ditetapkan berdasarkan wawancara dengan pakar tertentu. Penilaian pakar bersifat subjektif dan dapat berbeda antar individu. Bobot ini merepresentasikan perspektif pakar yang diwawancara, bukan ketetapan yang berlaku secara universal.

K-Means bersifat non-deterministik

Hasil pengelompokan kelurahan dapat sedikit berbeda setiap kali aplikasi dimuat ulang karena K-Means dimulai dari titik awal yang dipilih secara acak. Sistem menjalankan beberapa iterasi dan memilih hasil terbaik, namun variasi kecil tetap mungkin terjadi.

Kriteria distribusi belum mencakup semua variabel

Faktor penting lain seperti kondisi infrastruktur jalan, daya beli masyarakat, atau tren konsumsi terkini belum masuk ke dalam model karena keterbatasan data yang tersedia.

Pertanyaan umum

Disclaimer: Sistem ini merupakan prototipe tugas akhir. Rekomendasi yang dihasilkan adalah hasil analisis kuantitatif berbasis data sekunder dan tidak menggantikan survei pasar, konsultasi bisnis, atau penilaian profesional lainnya. Penggunaan rekomendasi ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengguna.